Selasa, 16 April 2013

Hanya teman?


Aku hanya berpikir bahwa kamu sudah melupakannya, ternyata dia masih membayangi hatimu
Relung hatimu bahkan masih terukir namanya, Dimatamu masih terlihat sosoknya. Hatimu, pikiranmu dan bahkan waktumu hanya untuknya.
Saat bersamaku pun kamu hanya memakai tubuhmu tapi tidak untuk hatimu, ya aku tau kamu memang masih menyayangi, dan belum bisa melupakannya.
Someone...
Kapan kamu membuka hatimu untukku? Melihat aku secara nyata yang jelas-jelas sudah menunggu jawaban hatimu.
Apakah aku tidak boleh memasuki hatimu yang kosong itu? oh iya aku sampai lupa kalau hatimu tidak kosong, hatimu masih terisi namanya.

Tak bisakah aku masuk dan diperbolehkan mengukir namaku dihatimu?
Aku ingin mengukirnya tapi tidak dengan benda tajam atau semacamnya, aku hanya ingin mengukirnya dengan sebuah kasih sayang, pengertian, dan pemahaman akan dirimu.
Itu pun kalau dirimu masih mempersilahkan aku masuk dihatimu? Tapi kalau tidak? Aku hanya bisa mundur perlahan.
Ya walaupun menyakitkan diawal, aku hanya bisa berdoa agar kamu bahagia. Agar kamu mendapatkan hatimu sesuai nama yang terukir dihatimu itu.

sekarang aku paham, kamu hanya mengganggap aku teman, hanya teman dan tidak melebihi itu.
Seorang teman yang tak akan pernah bisa menjadi kekasih, jika aku berandai-andai memilikimu mungkin aku sedang mimpi dan belum terbangun dari tidurku.
Aku memang pandai membuat kata-kata bahkan sampai kamulah yang menjadi bagian dari kata-kataku.
Aku bisa menguasai puisi namun aku paling tidak bisa memahami cinta, cinta yang tak akan dapat aku kuasai.

Dan lagi lagi kamu hanya mengganggap aku teman, kapan hatimu peka terhadapku?
Aku mungkin sudah lelah, lelah menghadapi sikap cuekmu, tapi mau bagaimana? Sikap cuekmu yang membuat nyaliku tertantang.
Hebat kalau aku bisa memiliki hatimu, bahkan lebih hebat lagi jika aku menjadi milikmu.
Kamu adalah mimpiku, begitu sempurna jika mimpiku semuanya menjadi kenyataan.